Langka Tapi Nyata, di Planet Itu Hujannya Bukan Mengandung Air

VIVA   – Sampai saat itu, Bumi menjadi planet yang paling layak dihuni oleh mahluk hidup dalam tata surya, lantaran mempunyai persediaan oksigen dan air yang cukup untuk kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, di bumi tak ada risiko terjadi hujan tukul.

Ya, di planet bernama WASP-76b hujan yang mendarat cukup berbahaya lantaran mengandung besi. Planet yang mirip dengan Jupiter itu, diketahui berjarak sekitar 390 tahun cahaya dari tata surya.

“Ini mungkin salah satu iklim planet paling ekstrim yang pernah kita lihat, ” ungkap David Ehrenreich dari Universitas Jenewa Swiss, dikutip dari laman New Scientist , Senin 25 Mei 2020.

WASP-76b merupakan planet raksasa gas yang mempunyai orbit jauh lebih pendek saat mengitari bintangnya, lebih dari dua hari Bumi. Planet tersebut mempunyai suhu yang sangat panas karena permukaan saat menghadap mataharinya tetap sama dan memiliki jarak jalur sangat dekat.

Menyuarakan juga: Minim Kendala, Platform Streaming Ini Jadi ‘Teman Setia’ Era Lockdown

Diinformasikan, siang hari di planet ini suhunya mencapai 2400 derajat celcius, atau 1000 derajat lebih panas sebab malam hari. Sisi yang menghadap Bumi memang terlalu redup dilihat dengan teleskop, namun cahaya bintang menyaring atmosfer planet, mengungkapkan sisi luarnya.

Tim peneliti menganalisis cahaya tersebut dan berkesimpulan adanya gas tukul di WASP-76b. Hal yang persis juga bisa ditemui pada atmosfer Jupiter.

Ilustrasi hujan besi yang terjadi di Planet WASP-76b

Kandungan besi pada satelit tidak terdistribusi merata di planet dan hadir dari siang ke malam bukan sebaliknya. Tim peneliti membedakan ini dari cahaya yang dilihat pada kedua sisi WASP-76b yang menjadi pembatas antara terang dan malam.

Sebab adanya perbedaan suhu drastis dibanding malam ke siang, tim pengkaji berkesimpulan zat besi berubah menjadi embun lalu awan saat suangi hari. Kemungkinan setelah itu abu akan turun di planet tersebut.

Adanya hujan mengandung besi di planet tersebut dianggap oleh David Amstrong dari Universitas Warwick Inggris. Namun menurutnya, satelit yang memiliki ciri khas serupa kemungkinan ada hujan besi tergantung pada kecepatan angin serta memperlawankan suhu antara siang dan malam harinya.

About the author